Belajar Toleransi dengan Empat Kuadran Bersama Adik-adik Kampung Bambu

Halo, #MahasiswaSosial!

Wah tidak terasa sudah memasuki minggu ketiga di bulan Maret! Kali ini ada yang sedikit berbeda karena Social Designee berkolaborasi dengan Sabang Merauke! Materi pada 16 Maret 2018 ini disusun oleh Sabang Merauke sambil tetap mengusung tema toleransi..

Kami memulai kegiatan dengan permainan. Pertama, adik-adik dibagi menjadi dua barisan ke belakang. Lalu, kakak relawan akan menanyakan hal-hal sederhana. Pertanyaan dimulai dengan yang berhubungan dengan fisik, seperti siapa yang merasa dirinya tinggi, hidungnya mancung, rambutnya keriting, atau matanya sipit. Selain itu ditanyakan juga yang nonfisik, seperti siapa yang sering buang sampah sembarangan, siapa yang suka membantu orang tuanya di rumah, dan sebagainya. Seluruh ciri-ciri ini dituliskan dalam kertas dan akan ditempelkan kepada karton nantinya.

Setelah adik-adik puas bermain, kakak relawan mengajak untuk evaluasi dengan menggambar 4 kuadran pada karton. Wah, apa tuh empat kuadran? Apakah adik-adik diajarkan trigonometri seperti pelajaran matematika di SMA? Tentunya bukan, dong! Empat kuadran yang dimaksud berbentuk seperti ini:

MC games mengulas kembali hal-hal yang ditanyakan ketika permainan berlangsung dan dan meminta adik-adik menyebutkan alasan ketika mengelompokkan ciri-ciri atau sifat tadi. Misalnya, tinggi termasuk fisik dan itu tidak perlu diubah karena itu sudah pemberian dari Tuhan. Lalu, membuang sampah sembarangan termasuk nonfisik dan itu perlu diubah karena kebiasaan tersebut dapat merusak  lingkungan.

Setelah permainan pertama selesai, lanjut ke permainan kedua. Di permainan kedua ini, adik-adik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok suku pendatang dan kelompok suku asli. Kedua kelompok suku ini diajak untuk berkenalan dan menghargai satu sama lain dengan cara masing-masing suku. Setelah bermain, kakak relawan saling menanyakan pendapat adik-adik mengenai kelompok lawannya. Pada awalnya, suku pendatang menilai suku asli sebagai orang yang pemalu, sombong, tidak ramah, dan tidak mau berkenalan dengan orang lain. Sedangkan suku asli menilai suku pendatang sebagai orang yang agresif, kepo, dan kasar.

Setelah saling menilai antar suku, kakak relawan balik menanyakan hal tersebut kepada suku yang dinilai. Ternyata, masing-masing suku tidak merasa mereka memiliki sikap seperti itu. Dari permainan ini, kita mempelajari bahwa kita jangan mudah untuk menilai seseorang dari luarnya saja dan jangan berprasangka buruk terhadap orang lain.

Selesai permainan, adik-adik tetap menginginkan adanya kegiatan menggambar atau prakarya seperti biasanya. Untungnya, para relawan mempunyai ide dadakan untuk mengajak adik-adik menulis atau menggambar harapannya di kertas dan ditempelkan di karton. Kegiatan ini juga diikuti oleh kakak relawan, lho! Kegiatan pun diakhiri dengan foto bersama di lapangan dekat tempat kegiatan kami.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya! Salam #MahasiswaSosial !


Penulis : Sarah Ratu Annisa 
Editor : Gabriela Natasya

Gimana komentar kamu?