Cynthia Fayola

Toleransi Bagi Generasi: “Menanamkan Toleransi di Berbagai Bidang”

Penulis: Cynthia Fayola

Halo #MahasiswaSosial !

Selain membuka booth di Festival Relawan, Social Designee menyelenggarakan Kelas Relawan untuk memeriahkan Bulan Relawan Nasional di tahun 2018.

Kelas Relawan ini memiliki tema “Toleransi Bagi Generasi” yang dikategorikan menjadi empat macam kelas, yaitu “Membuat Konten Bertema Toleransi,” “Mengenal Autisme,” ” Mengenal BISINDO,” “Mengalami Toleransi dalam Kerelawanan,” dan “Cara Toleransi Kreatif untuk Anak.”

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard A.)
(Dokumentasi oleh Regen Tjhindana)

Diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 2018, Kelas Relawan disambut oleh relawan-relawan yang ingin belajar dan mengenali cara bersikap toleransi pada masing-masing bidang.

Setiap kelas membagikan ilmu berdasarkan bidangnya. Ivan Hartanto selaku pembicara kelas “Membuat Konten Bertema Toleransi” mengajarkan cara menulis dengan menggunakan metode Positive Hate Speech. Pada kelas “Mengenal Autisme,” Kwananingtyas B. P. memberikan gagasan bahwa penyandang autisme memiliki caranya sendiri untuk melihat dunia, sehingga kita harus menciptakan lingkungan yang positif untuk mereka.

(Dokumentasi oleh Cynthia Fayola)

Annisa Rahmania mengajarkan beberapa Bahasa Isyarat Indonesia, terutama alfabet A hingga Z, pada kelas “Mengenal BISINDO.” Berbeda dengan kelas “Mengalami Toleransi dalam Kerelawanan,” Anugerah Putra, selaku pembicara, membagikan kisah toleransi dirinya menjadi seorang relawan berlatar belakang minoritas ketika mengunjungi daerah Indonesia bagian timur. Kelas Relawan diakhiri dengan kelas “Cara Toleransi Kreatif untuk Anak,” di mana Tita Djumaryo membawakan buku ilustrasi berjudul Cap Go Meh yang bercerita tentang persamaaan makanan yang dihidangkan saat Tahun Baru Imlek dan Hari Raya Idul Fitri.

(Dokumentasi oleh Cynthia Fayola)

Melalui kelas-kelas ini, Social Designee memiliki tujuan agar ilmu dan perspektif yang didapatkan dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki latar belakang masyarakat yang berbeda-beda, maka dari itu, toleransi adalah kunci untuk menyatukan bangsa kita.

Salam,

#MahasiswaSosial

Social Designee Turut Memeriahkan Festival Relawan 2018

Penulis: Cynthia Fayola

Halo #MahasiswaSosial !

Bulan Desember adalah bulan yang patut kita meriahkan bersama, karena bulan ini adalah Bulan Relawan Nasional!

Salah satu kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati Bulan Relawan Nasional adalah Festival Relawan yang diadakan pada tanggal 1 Desember 2018.

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard A.)

Acara festival kerelawanan terbesar di Indonesia ini menghadirkan booth dan kelas dari berbagai macam komunitas, talkshow inspiratif, serta acara musik.

Social Designee turut menyambut para relawan dengan membuka booth di Festival Relawan 2018. Dengan adanya Festival Relawan, acara ini berguna untuk memberikan wadah dalam mempertemukan relawan dan komunitas-komunitas di Indonesia dengan mudah dan efektif.

(Dokumentasi oleh Cynthia Fayola)

Selain itu, Social Designee juga menyelenggarakan kelas untuk para relawan dengan mengangkat tema “Toleransi Bagi Generasi” yang dapat dibaca artikelnya di sini.

Suksesnya Festival Relawan menandakan aktifnya jiwa muda di Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam beraktivitas sosial. Social Designee berharap Festival Relawan pada tahun berikutnya dapat memberikan dampak yang lebih besar untuk aktivitas kerelawanan di Indonesia.

Salam,

#MahasiswaSosial

Surat Untuk Teman-Teman di Palu

Penulis: Gerienta Putu
Editor: Cynthia Fayola

Halo, #MahasiswaSosial !

Hujan yang sebelumnya lebat berubah menjadi rintik-rintik kecil dan mengiringi kedatangan kakak-kakak relawan ke Desa Pakulonan Barat 03. Di hari Sabtu tanggal 24 November itu, kami mengajak adik-adik untuk bermain dan belajar ketika menyusuri desa. Setelah kami memutuskan untuk kembali ke area kegiatan, seorang adik menghampiri kami dengan setengah berlari.

“Kak, tadi aku lagi tidur, terus dibangunin Umi. Katanya ada yang ngajak gambar, aku langsung bangun Kak,” ujarnya.

Kami sungguh terharu mendengarnya. Ternyata, bukan hanya kami yang semangat untuk mengikuti kegiatan ini, tetapi juga adik-adik Desa Pakulonan Barat 03.

(Dokumentasi oleh Filbert Agrata Setiawan)

Permainan untuk hari itu adalah Papan Kepala. Cara bermainnya adalah kakak-kakak relawan dan adik-adik dibagi menjadi dua tim. Setiap tim menugaskan satu anggotanya untuk menjadi penebak. Anggota tim lainnya harus membantu penebak dengan cara memperagakan objek yang tertulis di kertas yang penebak pegang di atas kepalanya.

“Gak ngerti kak,” ucap salah satu adik ketika MC Games selesai menjelaskan permainan.

Sontak kami dan adik-adik lainnya tertawa mendengarnya. Kami pun melakukan percobaan permainan terlebih dahulu agar adik-adik mengerti. Setelah itu, pertarungan sengit pun dimulai! Gelak tawa tidak henti-hentinya terdengar saat setiap tim kebingungan dalam memeragakan kata yang harus ditebak.

(Dokumentasi oleh Filbert Agrata Setiawan)

Kegiatan dilanjutkan dengan menggambar. Tema kali ini adalah “Pahlawan untuk Teman.” MC Materi menjelaskan bahwa adik-adik akan membuat surat yang nantinya dikirimkan kepada teman-teman korban bencana alam di Palu dan Donggala. Mendengar hal tersebut, tatapan adik-adik mulai berbinar. Pandangan mereka melekat pada kertasnya masing-masing sambil sesekali menanyakan tentang kondisi Palu dan Donggala kepada kakak-kakak relawan. Mereka juga bertanya cara untuk membantu meringankan beban teman-teman di Palu dan Donggala.

Kakak-kakak relawan menjawabnya dengan berkata bahwa kata-kata penyemangat di dalam surat yang sedang mereka buat dapat membantu teman-teman di Palu dan Donggala. Sembari membuat surat, tidak henti-hentinya adik-adik bergumam untuk mengungkapkan keprihatinan mereka.

Tak terasa kegiatan kami pun berakhir. Kunjungan kali ini adalah kunjungan terakhir bagi kakak-kakak relawan di Bulan November. Adik-adik mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa mereka menantikan kedatangan kami selanjutnya. Sekian artikel dari kami, sampai jumpa!

Salam,
#MahasiswaSosial

Generasi Muda Memiliki Kekuatan untuk Memulai Aksi

Penulis: Cynthia Fayola

“Young people know social issues around them but less (of them) take action.”

Dikutip dari video Misk Global Forum, sebuah kalimat menyentil diutarakan oleh Ryan Sucipto, pendiri Social Designee, ketika menjadi salah satu pembicara. Apakah teman-teman setuju dengan ucapan Kak Ryan? Atau justru ucapan ini memberikan kesadaran bahwa kamu termasuk dalam kategori “young people” tersebut?

Kak Ryan terbang ke Saudi Arabia untuk membagikan kisahnya menjadi seorang social entrepreneur. Tanggal 15 November 2018, ia dan tiga orang panelis mancanegara lainnya menceritakan social enterprise yang telah mereka bangun dengan Ibu Parminder Vir OBE sebagai moderator.

Perkataan inspiratif banyak disampaikan oleh Kak Ryan. Ia percaya bahwa banyak anak muda tidak melakukan aksi sosial karena mereka tidak memiliki sarana yang cukup; baik itu uang maupun jaringan. Padahal, sebuah visi dapat terwujud hanya dengan daya yang kita miliki saat ini. Sama halnya dengan Kak Ryan dalam membangun Social Designee; bermula dari pemikiran bahwa kreativitas adalah solusi dan didukung dengan tenaganya dalam melakukan riset seorang diri.

Berdasarkan ketakutan-ketakutan kaum millennial dalam memulai gerakannya, Kak Ryan mengeluarkan kata-kata penyemangat bagi mereka yang membutuhkan batu loncatan. Ia meminta agar anak-anak muda segera memulai aksi sosial tanpa memedulikan minimnya pengalaman dan ragamnya masalah yang dimiliki. Kak Ryan percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan.

Untuk kamu generasi muda penerus bangsa, seorang sineas ataupun seorang ahli matematika; kamu memiliki suara jika menjalankan aksi yang nyata. Jika murni melakukannya untuk masyarakat, banyak orang akan mendengar dan turut membantu dalam membangun social enterprise yang kamu miliki.

Ayo kaum muda, terutama #MahasiswaSosial ! Kak Ryan mengajak kamu untuk menembus keterbatasan menggunakan kreativitas agar dapat memberikan pengaruh yang besar dan positif untuk sekitar!

Salam,
#MahasiswaSosial

Apakah Kalian Sudah Mencoba Menjadi Pahlawan untuk Sekitar?

Penulis: Gerienta Putu
Editor: Cynthia Fayola

Halo #MahasiswaSosial !

Tanggal 10 November kemarin kakak-kakak relawan kembali mengunjungi Desa Pakulonan Barat 03. Begitu sampai di lokasi mengajar, kami disambut dengan heningnya hembusan angin dan suara kokok ayam. Wah, sepi sekali. Di mana kah adik-adik berada?

Kakak-kakak relawan mulai sedikit khawatir. Namun, pada akhirnya, kabar kedatangan kami tersebar dengan cepat! Tanpa perlu menunggu lama, datanglah adik-adik satu persatu dengan perlengkapan yang serupa, yaitu peralatan mewarnai dan ukiran senyum di wajah mereka.

Kami memulai kegiatan kami dengan ice breaking yang dipimpin oleh Kak Desi. Nama ice breaking yang kami mainkan adalah Lingkaran Angka. Kakak-kakak relawan harus saling berpegangan tangan agar membentuk sebuah lingkaran. Kemudian, adik-adik harus masuk ke dalam lingkaran tersebut. Tetapi, jumlah adik yang diperbolehkan untuk berada di dalam lingkaran harus sama dengan angka yang disebutkan dalam cerita Kak Desi.

“Terdapat enam kelinci di dalam kandang!” seru Kak Desi.

(Dokumentasi oleh Angelia Kristianto)

Adik-adik pun berebut masuk. Akhirnya, di dalam lingkaran terdapat sembilan orang yang berdiri berhimpitan. Ini berarti bahwa tiga orang harus keluar dari lingkaran. Namun, nampaknya tidak ada satu pun adik yang mau merelakan posisinya. Adik-adik saling menunjuk temannya agar segera keluar.

“Ada yang mau berbaik hati untuk mengalah?” tanya salah satu relawan.

Akhirnya, Rafa mengangkat telunjuknya sambil berjalan mundur keluar dari lingkaran. Melihat perilaku yang dilakukan Rafa, adik-adik yang lain menjadi tergerak untuk ikut mengalah. Hebat sekali ya! Ternyata sebuah kebaikan kecil dapat berdampak besar lho! Berkat Rafa, adik-adik yang lain pun dapat melanjutkan permainan dengan damai dan tetap riang gembira.

(Dokumentasi oleh Angelia Kristianto)

Kegiatan dilanjutkan dengan menggambar. Tema gambar kali ini adalah “Pahlawan di Sekitarku.” Adik-adik sibuk berkreasi di atas kertas yang telah kami bagikan. Tidak terkecuali untuk Dinar, salah satu adik Desa Pakulonan Barat 03.

“Ini Kak Laila. Kak Laila suka main sama aku,” ucap Dinar dengan suara kecil miliknya.

Pahlawan bagi Dinar adalah kakaknya yang bernama Laila. Berbeda dengan Dinar, Ina menggambar guru favorit miliknya sebagai pahlawannya. Ina berkata bahwa guru favoritnya membuatnya semangat belajar karena sering mengajak murid-muridnya bernyanyi di sela pelajaran.

Tanpa kita sadari, banyak sekali figur pahlawan di sekitar kita ya! Orang-orang terdekat yang telah berjasa dan juga menginspirasi kita dapat dipandang sebagai pahlawan kita. Apakah #MahasiswaSosial sudah mencoba menjadi pahlawan dengan menularkan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kalian? Kalau belum, yuk kita mulai dari sekarang!

Salam,
#MahasiswaSosial

Mengajar Sambil Belajar, Mengapa Tidak?

Penulis: Adinda Cindy Lapod
Editor: Cynthia Fayola

Halo, #MahasiswaSosial !

Relawan Social Designee kembali mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan adik-adik di Desa Medang 1 pada tanggal 3 November 2018. Kami disambut dengan antusias walaupun dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat, sebaliknya mereka justru menunjukkan wajah-wajah yang bersahabat untuk beraktivitas bersama kami!

Pertemuan hari itu dimulai dengan perkenalan antara adik-adik dan relawan. Ternyata, mereka begitu cepat dalam mengakrabkan diri dengan kakak-kakak relawan meskipun baru pertama kali bertemu. Bahkan tanpa sungkan sedikit pun, beberapa di antaranya berlari dan memeluk kakak-kakak relawan dengan begitu erat!

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan bermain Cermin Kebalikan. MC Games menceritakan sebuah kisah yang harus disimak oleh adik-adik. Misalnya, ketika MC Games mengatakan “mundur” di sela cerita, adik-adik harus melakukan sebaliknya. Adik-adik begitu sigap dan pandai lho dalam permainan ini! Senang deh dapat melihat senyuman yang terukir di wajah mereka!

(Dokumentasi oleh Febby Curie)

Bulan ini Social Designee mengangkat tema pahlawan nih, #MahasiswaSosial ! Adik-adik diminta untuk menyebutkan sosok yang mereka anggap sebagai pahlawan, kemudian menggambarkan sosok pahlawan itu pada secarik kertas dan diwarnai. Beberapa adik menggambar ibu sebagai sosok pahlawan dan ada pula yang menggambar guru. Masing-masing dari mereka mempunyai warna favorit lho! Ada yang menyukai warna kuning, ada juga yang suka dengan warna ungu. Warna-warna tersebut digunakan untuk mewarnai hasil gambar mereka.

(Dokumentasi oleh Febby Curie)

Terjadi banyak kejadian seru selama menghabiskan waktu dengan adik-adik Desa Medang 1. Mereka tidak ada habisnya membuat kami tersenyum. Salah satunya ketika mereka mengusulkan permainan Kotak Pos yang membuat kami menggelengkan kepala sambil tertawa melihat tingkah mereka saat bermain.

Kami yang ingin menghibur, malah kami yang dihibur oleh mereka. Rupanya, kegiatan yang dilakukan oleh Social Designee menghasilkan koneksi yang berharga. Tidak sekadar relawan mengajari adik-adik, tetapi juga relawan memetik banyak pelajaran dari adik-adik!

Sekian artikel kunjungan pada tanggal 3 November 2018 di Desa Medang 1. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Yuk Intip Diary Sehatku Karya Adik-Adik Desa Carang Pulang 1!

Penulis: Cynthia Fayola

Halo, #MahasiswaSosial!

Cerita seru di Desa Carang Pulang 1 kembali lagi nih! Yuk simak kegiatan Social Designee bersama relawan di hari Sabtu tanggal 27 Oktober 2018!

Kami menginjakkan kaki di Desa Carang Pulang 1 dan bertegur sapa dengan adik-adik yang jumlahnya tidak sebanyak Sabtu lalu. Ternyata, banyak adik-adik yang mengikuti orangtua mereka untuk menghadiri kondangan. Namun hal ini tidak menjadi halangan, #MahasiswaSosial! Kami tetap menjalankan kegiatan kami yang edukatif dan inspiratif!

Permainan yang kami lakukan bernama “Buka Pintu!” Pertama, kami harus membagi kelompok menjadi dua; kelompok pertama berperan sebagai “Pintu” dan kelompok kedua berperan sebagai “Buka Pintu.” Setelah itu, anggota pada barisan paling depan kelompok “Buka Pintu” harus melakukan suit dengan semua anggota kelompok “Pintu.” Jika ia mengeluarkan suit yang sama dengan lawan, maka ia dapat melanjutkan suit pada anggota lawan berikutnya. Pemenangnya adalah yang tercepat dalam mengalahkan semua anggota lawan.

(Dokumentasi oleh Salvia Patriana H.)

Materi pada kunjungan ini adalah membuat “Diary Sehatku.” Adik-adik diberikan kertas A4, kemudian mereka melipatnya menjadi empat sisi. Empat sisi ini adik-adik isi dengan gambar dan warna mengenai buah serta sayur kesukaan, olahraga kesukaan, kalimat pengingat pentingnya sikat gigi, dan kalimat pengingat bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Kak Fike, salah satu relawan, berkata bahwa adik-adik Desa Carang Pulang 1 membuat “Diary Sehatku” hingga selesai tanpa rasa kantuk menghampiri mereka selama proses pembuatan. Padahal, cuaca siang itu kurang bersahabat dan cocok untuk tidur siang, tetapi mereka tetap memiliki antusiasme yang tinggi!

(Dokumentasi oleh Salvia Patriana H.)

Kegiatan pun selesai. Adik-adik mempresentasikan karya mereka masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama. Kak Dzakirah, salah satu relawan, mendapatkan kegembiraan dari kegiatan yang dibuat oleh Social Designee ini. Ia senang dapat memberikan manfaat walaupun dalam waktu yang singkat. Kami tunggu keikutsertaan berikutnya ya, Kak Dzakirah!

Sekian cerita seru di kala Sabtu yang tidak ramai seperti biasanya, namun tetap memberikan dampak yang luar biasa! Sampai jumpa!

Salam,
#MahasiswaSosial

Tomat dan Wortel, Manakah yang Sehat untuk Mata?

Penulis: Siti Reyhananda Budiaman
Editor: Cynthia Fayola

Halo, #MahasiswaSosial!
Kembali lagi di artikel kunjungan Desa Bojong Gintung! Pada tanggal 20 Oktober 2018, Social Designee mengadakan kegiatan yang tidak kalah seru dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya di Desa Bojong Gintung!

Pada pukul 14.00, para relawan yang baru tiba di Desa Bojong Gintung disambut dengan antusias oleh adik-adik yang sudah menunggu. Setelah adik-adik memanggil semua temannya, kegiatan dimulai dengan permainan “Lingkaran Hutan.” Dalam permainan ini, para relawan saling berpegangan tangan sehingga membentuk sebuah lingkaran yang melambangkan hutan. Adik-adik dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok tupai, kelinci, dan kancil.

Permainan dipimpin oleh Kak Grace dan Kak Nanda. Mereka menceritakan sebuah kisah dan ketika kalimat “Kancil masuk!” diucapkan, kelompok kancil harus segera masuk ke dalam lingkaran yang telah dibentuk oleh para relawan. Sama halnya dengan kelompok kelinci dan kelompok tupai.

(Dokumentasi oleh Brigita MF)

Adik-adik Bojong Gintung berlarian masuk ke dalam lingkaran dan keluar dari lingkaran dengan cepat! Mereka tidak menahan senyum dan gelak tawa selama permainan berlangsung. Dan ternyata, permainan ini ada pesan moralnya loh, #MahasiswaSosial! Permainan ini mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian hutan agar tempat tinggal hewan-hewan ini layak digunakan sebagai rumah untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya.

Selanjutnya sesi materi dimulai dan dipimpin oleh Kak Regina. Adik-adik mempelajari cara melipat cikupa yang di dalamnya terdapat gambar-gambar buah dan sayur yang baik untuk kesehatan tubuh. Sebelum melipat cikupa, adik-adik diberi waktu untuk mewarnai masing-masing cikupa. Agar kegiatan mewarnai dan melipat cikupa semakin seru, Kak Regina mengajak adik-adik untuk bernyanyi sambil menyelesaikan karya.

(Dokumentasi oleh Brigita MF)

Ketika cikupa selesai dibuat, Kak Regina mengajak adik-adik untuk memainkan cikupa tersebut.

“Jadi, makanan apa yang sehat untuk mata?” tanya Kak Regina.
“Tomat!” jawab adik-adik sambil memainkan cikupanya.
“Selain tomat apa lagi?” tanya Kak Regina.
“Wortel!” seru adik-adik dengan yakin.

Sekian kegiatan kami di Desa Bojong Gintung! Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial!

Bermain Bersama dan Membudayakan Cuci Tangan!

Penulis: Evan Tandjaya
Editor: Cynthia Fayola

Halo #MahasiswaSosial!

Salah satu momen paling dikenang adalah ketika bermain dan belajar bersama dengan teman-teman. Bukankah begitu #MahasiswaSosial?

Pada tanggal 13 Oktober 2018, kami melakukan kunjungan ke Desa Pakulonan Barat 03. Kunjungan ini kami lakukan sekaligus untuk memperingati Global Handwashing Day yang jatuh setiap tanggal 15 Oktober.

Kami mengawali kegiatan dengan mendatangi dan memanggil adik-adik ke rumah mereka. Awalnya, kami cemas bahwa mereka sedang tidak ingin bermain dan belajar bersama. Ternyata, mereka begitu antusias menerima ajakan kami dan langsung menuju saung tempat kami semua berkumpul!

(Dokumentasi oleh Nicoletta Joan)

Kak Franko dan Kak Evelyn mengajak adik-adik untuk bermain “Anak Bebek.” Permainan “Anak Bebek” adalah permainan di mana adik-adik berperan sebagai anak bebek dan Kak Franko serta Kak Evelyn berperan sebagai induk bebek. Lucunya, ketika Kak Franko sedang menjelaskan peraturan permainan, salah satu adik bernama Falah spontan menjongkok dan berdiri berulang kali, seakan-akan memeragakan gaya katak. Padahal, gerakan yang harus mereka lakukan adalah gaya bebek. Lucu ya!

Ketika permainan berlangsung, tawa dan juga gerakan-gerakan yang lucu tidak bisa ditahan untuk dikeluarkan oleh kakak-kakak relawan beserta adik-adik. Adik-adik memeragakan gaya senang, sedih, takut, dan bahkan gaya patung, yaitu sebuah gaya di mana adik-adik harus diam dan tidak boleh bergerak sama sekali. Sungguh lucu dan beraneka ragam pose yang dilakukan adik-adik ketika bergaya patung! Hanya satu hal yang sama-sama mereka semua lakukan, yaitu senyum dan tawa yang ditampilkan dan dikeluarkan oleh mereka.

(Dokumentasi oleh Nicoletta Joan)

Kegiatan selanjutnya adalah mewarnai gambar tangan bersih dan tangan kotor. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran adik-adik akan pentingnya mencuci tangan. Adik-adik pun mulai menunjukkan kemampuan mereka dalam berkreasi warna. Bahkan ketika selesai mewarnai, beberapa adik langsung memamerkan hasil karya mereka kepada teman-temannya loh!

Kemudian, adik-adik mempresentasikan hasil karya mereka setelah selesai mewarnai. Terdapat beberapa adik yang dengan berani mengajukan diri untuk mempresentasikan hasil karyanya. Patut diacungkan jempol nih!

Sekian artikel pada kunjungan tanggal 13 Oktober 2018 di Desa Pakulonan Barat 03. Sampai jumpa!

Salam,
#MahasiswaSosial

Keceriaan Bebek-Bebek Medang!

Penulis: M. Jordy Moza Servia
Editor: Cynthia Fayola

Halo #MahasiswaSosial!

Kunjungan ke Desa Medang 04 sudah kami lakukan nih pada tanggal 13 Oktober 2018 yang lalu! Penasaran bagaimana serunya aktivitas di Desa Medang 04? Mari simak cerita para relawan Desa Medang 04 di bawah ini!

Sesi pendahuluan dimulai dengan sebuah game bernama “Bebek-Bebekkan.” Di dalam game ini, adik-adik berperan menjadi anak bebek dan kakak-kakak relawan menjadi induk bebek. “Anak-anak dan induk-induk bebek” ini harus membentuk lingkaran dan nantinya akan berjalan mengelilingi lingkaran tersebut. MC Games menceritakan sebuah kisah tentang induk dan anak bebek yang diganggu penyihir karena telah mencuri ikan.

Melalui alur kisah yang disampaikan, MC Games menginstruksikan adik-adik dan para relawan untuk menjadi seekor bebek yang sedih, takut, senang, dan diam membatu ketika dikutuk oleh sang penyihir. Adik-adik mengikuti setiap gerakan “induk” mereka dengan baik. Adik-adik Desa Medang 04 merupakan anak-anak bebek yang patuh kepada ibunya nih!

Game berjalan dengan sangat seru, terutama ketika adik-adik ditakuti oleh penyihir. Mereka berlari ketakutan menghindari penyihir, namun senyum bahagia tetap terlukis di wajah mereka selama permainan berlangsung.

(Dokumentasi oleh Benita Sulaiman)

Setelah game yang dibawakan telah berakhir, adik-adik terlihat sangat energetik untuk melakukan kegiatan selanjutnya, yaitu mewarnai gambar tangan yang kotor dan gambar tangan yang bersih. Tepatnya, materi ini memiliki tema “Mencuci Tangan dengan Baik dan Benar!”

Adik-adik mewarnai gambar tersebut dengan fokus. Kreativitas terlihat jelas di banyak karya adik-adik; ada yang mewarnai tangan dengan warna pelangi, ada yang mewarnai dengan warna biru, dan ada yang mewarnai dengan perpaduan warna-warna yang unik! Mereka pun berlomba-lomba memamerkan gambar hasil pewarnaan mereka ketika sesi presentasi dilakukan.

(Dokumentasi oleh Benita Sulaiman)

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dengan karya yang telah mereka buat. Tiba saatnya untuk berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Kedekatan antara adik-adik Desa Medang 04 dengan para relawan terlihat dengan jelas pada perpisahan ini. Terdapat salah satu adik dan relawan yang memiliki tos pertemanan yang mereka buat sendiri. Menarik ya!

Sekian cerita kunjungan kali ini, tunggu momen-momen seru berikutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial