Gabriela Natasya

Love Yourself – Klasik #8 Bersama Stanislaus Nielsen

Halo, #MahasiswaSosial !

Di bulan Maret ini, Kak Nielsen mengajak kita untuk mencintai diri sendiri atau love yourself. Lho, kok bukannya cinta pada orang lain? Yuk, simak langsung keseruan Klasik #8 pada 30 Maret 2019 kemarin!

Klasik ini dmulai dengan permainan yang mengajak para #MahasiswaSosial untuk menggambarkan diri mereka hari ini dengan hanya satu kata beserta alasannya. Permainan ini sangat mendorong kreativitas karena memberikan kebebasan untuk mengeksperikan diri. Seru ya!

Setelah permainan selesai, Kak Nielsen mulai berbagi cerita tentang pentingnya mencintai diri sendiri. Ia bercerita tentang fase perubahan dalam dirinya. Kak Nielsen yang awalnya dikenal sebagai anak yang aktif, berubah menjadi pribadi pendiam. Berkat usahanya untuk berdamai dengan dirinya sendiri, Kak Nielsen pun kembali menjadi aktif. Ternyata cerita Kak Nielsen sangat dekat dengan kita, lho! Hal ini membuat para  #MahasiswaSosial yang hadir merasakan pentingnya berdamai dengan diri sendiri.

Setelah membagikan pengalamannya, Kak Nielsen juga membagikan tips kepada para #MahasiswaSosial untuk mencintai diri sendiri! Tips-tips ini berguna agar kita dapat mengenal diri sendiri lebih dalam dan terus berani untuk melangkah lebih jauh.

Klasik ini pun ditutup dengan foto bersama. Tidak lupa, Kak Nielsen memberikan quote dari Sabang Merauke tentang mengenal dan mencintai

Mengenal dan mencintai itu mencakup dua hal, yakni untuk orang lain dan tentunya untuk diri sendiri. Sekian Klasik #8 Love Yourself bersama Kak Nielsen. Sampai jumpa di Klasik selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Penulis : Ivan Hartanto
Editor : Gabriela Natasya

Klasik, Kelas Asik #7 tentang Empati bersama Kak Vincentius Goh

Halo,  #MahasiswaSosial !

Sejak bulan Februari 2019, Social Designee mulai mengadakan kegiatan ngobrol bareng yang terbuka untuk umum, antara pengurus Social Designee dengan para #MahasiswaSosial. Kegiatan ini dinamai Klasik, Kelas Asik. Nah, kira-kira apa yang dilakukan di Klasik ini ya? Yuk, simak keseruan Klasik pada tanggal 23 Februari 2019 kemarin! Dibawakan oleh Kak Vincent, Klasik bertopik empati ini dimulai dengan sebuah permainan berjudul “I feel so … saat …” Permainan sangat seru karena mendorong kreativitas kakak-kakak #MahasiswaSosial untuk menceritakan perasaan mereka hari itu secara bergiliran.

Setelah permainan, Kak Vincent melanjutkan presentasinya tentang masalah empati yang gawat di Indonesia, khususnya pada media sosial. Kak Vincent menyatakan bahwa masalah empati tentu tidak akan muncul apabila kita sadar akan pentingnya mencoba memahami perasaan orang lain.

Untuk memudahkan para #MahasiswaSosial memahami empati, Kak Vincent pun menyiapkan satu video yang ia temukan di Youtube dengan judul Brené Brown on Empathy. Melalui video ini, kita sebagai #MahasiswaSosial diajak untuk memahami perbedaan empati dan simpati yang ternyata sangat berbeda karena empati menekankan pada koneksi antarindividu.

Setelah menonton video, Kak Vincent juga membagikan empati dalam konsep yang lebih sederhana sehingga dapat diaplikasikan. Konsep empati yang dibagi menjadi dua, yaitu mendengarkan bukan memberi saran dan memahami bukan membandingkan.  Materi yang sangat penting bagi kita para #MahasiswaSosial agar terus mengedepankan pemahaman bukan penghakiman.

Kak Vincent kemudian melontarkan pertanyaan “Apakah dari 267 juta jiwa penduduk Indonesia, kamu pernah bertemu dengan orang baik yang sesuai kriteriamu?” “Karena jika sampai saat ini kamu belum menemukannya, maka jadilah salah satunya” tutup Kak Vincent sambil meyakinkan #MahasiswaSosial agar terus berbuat baik untuk lingkungan dan Indonesia.

Sekian Klasik tentang empati bersama Kak Vincent. Sampai jumpa di Klasik selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Penulis : Ivan Hartanto
Editor : Gabriela Natasya

Adik-adik Perempuan Desa Bojong Gintung

Halo, #MahasiswaSosial !

Di minggu ketiga bulan April ini, adik-adik perempuan sudah banyak yang berkumpul. Terlihat pula adik-adik lainnya yang berdatangan menggunakan sepeda maupun berjalan kaki untuk berkumpul bersama. Yuk kita mulai permainan pertama! Konsentrasi yang tinggi dibutuhkan dalam permainan ini untuk memahami aturannya. Adik-adik pun dibagi menjadi 4 suku, yaitu suku Musi, Bobo, Gupi, dan Sombo. Suku Musi merupakan suku yang kaya dan berkomunikasi dengan bahasa daerah. Namun, Namun, Suku Musi bermusuhan dengan para pedangang Suku Gupi yang hanya bisa berbicara “Gupi gupi!”. Selanjutnya, terdapat Suku Bobo yang merupakan suku penghasil kayu yang tidak bisa berbicara. Suku ini bermusuhan dengan Suku Sombo yang merupakan pedagang. Suku Sombo dapat berkomunikasi dengan semua bahasa suku yang ada.

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard)

Setiap suku bertugas untuk mendapatkan berbagai kebutuhan yang seimbang, yaitu satu uang, kayu, dan beras. Saat memulai permainan, adik-adik pun langsung melakukan barter untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan dengan cepat. Kelompok yang berhasil melengkapi kebutuhannya dengan cepat adalah suku Musi. Barang yang mereka dapatkan ternyata melebihi kebutuhan mereka sehingga dapat diberikan kepada kakak yang berperan sebagai  pengemis. Meskipun demikian, masih ada kelompok yang sibuk untuk barter meskipun waktu telah habis. Wah, bagaimana dong?

Setelah itu dilanjutkan ke ronde kedua di mana tiap suku tetap melakukan barter tanpa ada yang bermusuhan, sehingga tiap suku dapat melakukan barter secara bebas. Permainan ini mengajarkan kita bahwa semuanya menjadi lebih mudah untuk didapatkan jika kita tidak bermusuhan dan saling membantu satu sama lain, terutama untuk orang yang lebih membutuhkan.


(Dokumentasi oleh Kevin Leonard)

Permainan kedua adalah Buaya dan Kancil. Adik-adik dibagi menjadi 2 kelompok kancil, yaitu kelompok kancil coklat dan kancil emas. Kemudian kakak-kakak relawan berperan menjadi buaya. Kelompok kancil coklat dan kancil emas sedang kelaparan dan ingin menyebrangi sungai untuk mencari makan. Untuk dapat menyebrangi sungai, kedua kelompok kancil kemudian harus membuat jembatan yang disusun dengan menggunakan sandal. Saat permainan mulai, kancil dari masing-masing kelompok pun bergantian untuk melakukan suit dengan kelompok kancil lawannya. Kelompok yang menang dapat memilih untuk menambah 1 sandal di jembatan miliknya atau mengurangi 1 sandal milik kelompok lawan. Saat malam hari tiba, kancil harus menutup mata untuk tidur. Jika tidak, dik tersebut akan diambil dan dibawa ke sarang buaya. Hii.. seram! Pada akhirnya, kelompok kancil emas memenangkan permainan ini. Kesimpulan dari permainan ini adalah jika kedua kelompok kancil tersebut bekerja sama, mereka akan mencapai ujung sungai dengan lebih cepat, dan semua kancil dapat memperoleh makanan.


(Dokumentasi oleh Kevin Leonard)

Setelah permainan selesai, Kegiatan ditutup dengan pembacaan doa sehingga adik-adik dapat mengingat pesan penting permainan-permainan hari ini. Namun Namun karena hari semakin sore, adik-adik yang laki-laki pun pamit terlebih dahulu untuk latihan sepak bola. Sebelum pergi, tak lupa mereka bersalaman dengan setiap kakak-kakak pembina. Setelah itu, adik-adik perempuan menjadi antusias dan berani untuk ikut membaca hikmat dan doa bersama. Mereka pun bergantian untuk membaca doa yang telah tersedia. Meskipun kita semua pulang lebih sore, namun kami senang karena semua materi dan permainan dapat tersampaikan dengan baik.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Salam, #MahasiswaSosial !

Penulis : Edita Inten A.
Editor : Gabriela Natasya

Kita Satu Indonesia

Halo, #MahasiswaSosial !

Di minggu kedua bulan April ini, Social Designee masih bertemakan Toleransi dan kembali mendatangi Kampung Bambu 01.

Kegiatan diawali dengan kedatangan kakak-kakak relawan yang disambut oleh adik-adik Kampung Bambu 01. Kemudian kegiatan dimulai dengan memperkenalkan diri karena banyak kakak-kakak relawan yang baru pertama kali datang ke Kampung Bambu 01 dan ingin sekali mengenal adik-adik. Setelah memperkenalkan diri, kegiatan dilanjutkan dengan bermain Kancil dan Buaya. Dalam permainan ini, adik-adik berperan sebagai kancil yang dibagi menjadi dua kelompok dan berlomba-lomba untuk membuat jembatan menggunakan sandal agar dapat ke pulau seberang untuk mencari makanan. Namun, pada malam hari ada buaya-buaya yang datang dan adik-adik harus menutup mata jika tidak mau diambil oleh buaya. Setelah permainan selesai, kakak-kakak relawan menjelaskan bahwa kita tidak perlu berlomba-lomba untuk membuat jembatan. Jika kita bisa bekerjasama, kita dapat mencapai tujuan yang sama karena sesuai dengan peribahasa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

(Dokumentasi oleh Regina Martha)

Kegiatan dilanjutkan dengan dibagikannya potongan-potongan kertas. Adik-adik diberi kebebasan untuk mewarnai dan berkreasi dengan kertas yang telah diberikan. Karena kertas yang terpotong memiliki gambar yang berbeda ukuran, ada adik-adik yang merasa bahwa gambarnya lebih kecil daripada temannya. Tapi kakak-kakak menjelaskan bahwa adik-adik bisa berkreasi diluar gambar yang sudah disediakan. Ketika adik-adik sudah selesai berkreasi, kakak-kakak meminta tolong kepada adik-adik untuk menyusun potongan-potongan gambar itu menjadi sebuah bentuk. “Bentuk apa yang terbentuk setelah adik-adik menyusun kertasnya?” tanya seorang kakak relawan. “Burung Hantu!” jawab adik-adik. Setelah kegiatan selesai, kakak-kakak Social Designee menjelaskan bahwa walaupun warna yang ada pada gambar itu berbeda-beda, gambar-gambar itu tetap tersusun sebagai sebuah burung hantu. Sama seperti Indonesia yang berbeda-beda kebudayaannya tapi tetaplah satu negara Indonesia.

(Dokumentasi oleh Elvan Phangestu)

Walaupun sedang hujan, kegiatan berakhir dengan suasana yang ceria. Kakak-kakak dan adik-adik Kampung Bambu 01 pun berfoto bersama dengan karya yang telah dibuat oleh adik-adik.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya, ya!

Salam, #MahasiswaSosial

Penulis : Gilli Putri
Editor : Gabriela Natasya

Berbeda tapi Tetap Teman

Halo, #MahasiswaSosial !

Sabtu, 6 April 2019 merupakan minggu pertama kegiatan di bulan April, dengan tema “Toleransi”. Seperti biasa, adik-adik Desa Bojong Gintung berkumpul di bawah pohon untuk beraktivitas. Kegiatan dimulai dengan perkenalan antara relawan-relawan baru dengan adik-adik desa. Setelah itu, salah seorang kakak MC membuka pembicaraan tentang perbedaan. “Apa saja yang membedakan kita dengan teman kita?” Banyak adik-adik yang mengatakan suku, agama, orang tua, rumah, bahkan makanan kesukaan. Hal yang menarik adalah ada salah satu kakak dari Social Designee, yaitu Kak Kevin, yang memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat. Melihat perbedaan ini, adik-adik pun tertarik untuk berkomunikasi dengan Kak Kevin meskipun awalnya malu-malu. Kakak lainnya bertanya, “Apakah karena perbedaan ini kalian masih mau berteman dengan Kak Kevin?”. Adik-adik pun menjawab dengan antusias, “Mau!”

(Dokumentasi oleh Rinneke Wihelmina Ruth Pantouw)

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan permainan Kereta Indonesia. Permainan ini dimulai dengan adik-adik yang membuat lingkaran sambil memegang bahu temannya dari belakang sehingga membentuk kereta-keretaan, kemudian menyanyikan lagu yang telah disiapkan. Penggalan lirik lagu yang dinyanyikan memiliki makna bahwa meskipun kita berbeda-beda tapi kita tetap teman yang hidup di satu negara, yaitu negara Indonesia.

(Dokumentasi oleh Rinneke Wihelmina Ruth Pantouw)

Setelah bernyanyi dan bermain bersama, kegiatan dilanjutkan dengan mewarnai beberapa gambar hewan, seperti ikan, gajah, kura-kura dan kupu-kupu. Adik-adik dibebaskan untuk mewarnai seunik mungkin dan menambahkan bentuk atau atribut baru pada binatang tersebut. Adik-adik pun antusias untuk berkarya menggunakan pensil warna. Meskipun sempat pindah tempat karena hujan, adik-adik berhasil menyelesaikan karya mereka yang unik dan lucu.

(Dokumentasi oleh Jennifer Anastasia Simon)

Kegiatan berakhir dengan sangat menyenangkan meskipun adik-adik sedikit kehujanan. Tidak lupa kami berfoto bersama, dan adik-adik bersalaman dengan kakak-kakak relawan.

Sampai berjumpa minggu depan, ya!

Penulis : Edita Inten A.
Editor : Gabriela Natasya

Social Designee, April 2019

Uniknya Kreasi Wajah Adik-adik Bojong Gintung

Hai hai halo, #MahasiswaSosial !

Wah, tidak terasa sudah sampai di minggu keempat di bulan Maret. Tepatnya pada tanggal 30 Maret 2019, Social Designee mengadakan aktivitas bertema toleransi di Desa Bojong Gintung.

Saat sampai di desa, terlihat semua adik-adik sudah berkumpul menunggu kedatangan kakak relawan. “Wah banyak banget anaknya, seru nih pasti”, kata Kak Dini dengan bersemangat. Adik-adik pun menyapa dan berkenalan dengan kakak relawan. “Hari ini main apa, kak?”, tanya salah satu anak.

(Dokumentasi oleh Andini Arista)

Permainannya adalah mencari barang yang ditentukan oleh MC Games. Tapi ada yang unik loh! Adik-adik dibagi menjadi beberapa kelompok dengan satu anak ditutup matanya menggunakan kain. Tugas tiap kelompok adalah memandu teman yang ditutup matanya untuk mencapai barang yang telah ditentukan oleh MC Games. Adik-adik pun bermain dengan antusias!

(Dokumentasi oleh Andini Arista)

Kegiatan pun dilanjutkan dengan sesi materi. Materi kali ini bertujuan untuk mensyukuri indera penglihatan yang kita miliki. Adik-adik pun membuat gambar dan menempel organ-organ tubuh dengan mata yang tertutup oleh kain. “ Kak, sulit kak, gelap”, kata Ibnu kebingungan. Aktivitas ini memerlukan bantuan dari teman lainnya, di mana adik-adik memberikan arahan berupa kata-kata kepada teman yang matanya ditutup untuk menempel gambar organ tubuh tersebut.

(Dokumentasi oleh Nielsen)

Akhirnya adik-adik desa Bojong Gintung pun berhasil menyelesaikan gambar wajah. “Wih, kok jadi lucu ya mukanya, hehehe”, kata Kak Risda. Akhirnya kegiatan pun selesai. Masih banyak lagi lho aktivitas lainnya. Nantikan di artikel selanjutnya ya!

Salam, #MahasiswaSosial !

Penulis : Stanislaus Nielsen Kardani
Editor : Gabriela Natasya

Alif yang Berani

Hai, #MahasiswaSosial!

Setiap kunjungan ke desa tentu selalu memiliki kesannya sendiri. Walaupun di tahun 2019 ini Social Designee bersama para relawan sudah rutin ke Rawa Buaya, setiap kunjungannya selalu berbeda dan tak terduga. Pada hari Sabtu, 23 Maret ini ada Alif dan teman-temannya yang ternyata sudah ikut berkumpul untuk menunggu kedatangan kakak-kakak relawan! Padahal minggu-minggu sebelumnya mereka masih malu-malu dan tidak mau ikut. Hanya memandangi kami yang sedang bermain dari jauh.

Seperti biasa, kakak-kakak relawan dan adik-adik saling berkenalan sebelum memulai kegiatan. Semua anak mendapatkan giliran. Sayang, saat tiba giliran Alif untuk memperkenalkan diri, ia malu-malu dan tidak mau bicara walaupun sudah disemangati dan dibujuk teman-temannya serta para kakak relawan. Kalau begitu, kakak tunggu Alif berani memperkenalkan diri di pertemuan selanjutnya ya!


(Dokumentasi oleh Gabrielle Darmawan)

Akhirnya kegiatan pun tetap dilanjutkan dengan bermain petak warna menggunakan kacamata yang dibuat oleh adik-adik di minggu kedua kemarin. Kak Mirelle dan Kak Regina membawakan sebuah cerita dan anak-anak harus menyentuh warna sesuai instruksi yang ada di cerita. Permainan semakin seru karena kacamata yang digunakan membuat permainan jadi sedikit lebih sulit daripada biasanya. Warna putih jadi terlihat biru dan warna lain juga jadi terlihat berbeda. Kegiatan hari ini ingin mengarahkan adik-adik desa untuk mensyukuri kemampuannya melihat warna ketika sudah merasakan sulitnya membedakan warna. Semuanya semangat sekali saat bermain petak warna. Termasuk Alif yang walaupun tadi malu-malu tapi aktif sekali saat bermain.

Setelah bermain petak warna, adik-adik dan kakak-kakak dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil untuk mewarnai gambar organ wajah yang dibuat di minggu pertama. Gambar-gambar yang sudah diwarnai kemudian digunting dan akan digunakan lagi untuk membuat karya minggu depan. Karena masih ada waktu, adik-adik yang waktu itu tidak ikut membuat kacamata ditawari untuk membuat kacamata lagi. Awalnya Alif menolak saat diajak untuk membuat kacamata. Tapi tak lama, akhirnya ia meminta Kak Calita untuk mengajarinya. Senyum malu tersimpul di wajahnya saat meminta bahan untuk membuat kacamata.


(Dokumentasi oleh Gabrielle Darmawan)
(Dokumentasi oleh Gabrielle Darmawan)

Walaupun pada awalnya masih belum berani untuk memperkenalkan diri, perkembangan Alif membanggakan sekali, lho!  Karena saat pertama kali bertemu dengan Alif tiga atau empat minggu yang lalu, diajak bicara sedikit pun Alif sama sekali tidak mau menjawab. Diam seribu bahasa. Tapi pada kunjungan kali ini ia sudah berani untuk ikut bermain dan belajar bersama, bahkan cukup mandiri saat mewarnai dan membuat kacamata. Hebat ya! Pasti akan ada saatnya Alif berani untuk memperkenalkan diri karena setiap anak punya waktunya masing-masing.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya! Salam #MahasiswaSosial !

Penulis : Calita Hin
Editor : Gabriela Natasya

Belajar Toleransi dengan Empat Kuadran Bersama Adik-adik Kampung Bambu

Halo, #MahasiswaSosial!

Wah tidak terasa sudah memasuki minggu ketiga di bulan Maret! Kali ini ada yang sedikit berbeda karena Social Designee berkolaborasi dengan Sabang Merauke! Materi pada 16 Maret 2018 ini disusun oleh Sabang Merauke sambil tetap mengusung tema toleransi..

Kami memulai kegiatan dengan permainan. Pertama, adik-adik dibagi menjadi dua barisan ke belakang. Lalu, kakak relawan akan menanyakan hal-hal sederhana. Pertanyaan dimulai dengan yang berhubungan dengan fisik, seperti siapa yang merasa dirinya tinggi, hidungnya mancung, rambutnya keriting, atau matanya sipit. Selain itu ditanyakan juga yang nonfisik, seperti siapa yang sering buang sampah sembarangan, siapa yang suka membantu orang tuanya di rumah, dan sebagainya. Seluruh ciri-ciri ini dituliskan dalam kertas dan akan ditempelkan kepada karton nantinya.

Setelah adik-adik puas bermain, kakak relawan mengajak untuk evaluasi dengan menggambar 4 kuadran pada karton. Wah, apa tuh empat kuadran? Apakah adik-adik diajarkan trigonometri seperti pelajaran matematika di SMA? Tentunya bukan, dong! Empat kuadran yang dimaksud berbentuk seperti ini:

MC games mengulas kembali hal-hal yang ditanyakan ketika permainan berlangsung dan dan meminta adik-adik menyebutkan alasan ketika mengelompokkan ciri-ciri atau sifat tadi. Misalnya, tinggi termasuk fisik dan itu tidak perlu diubah karena itu sudah pemberian dari Tuhan. Lalu, membuang sampah sembarangan termasuk nonfisik dan itu perlu diubah karena kebiasaan tersebut dapat merusak  lingkungan.

Setelah permainan pertama selesai, lanjut ke permainan kedua. Di permainan kedua ini, adik-adik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok suku pendatang dan kelompok suku asli. Kedua kelompok suku ini diajak untuk berkenalan dan menghargai satu sama lain dengan cara masing-masing suku. Setelah bermain, kakak relawan saling menanyakan pendapat adik-adik mengenai kelompok lawannya. Pada awalnya, suku pendatang menilai suku asli sebagai orang yang pemalu, sombong, tidak ramah, dan tidak mau berkenalan dengan orang lain. Sedangkan suku asli menilai suku pendatang sebagai orang yang agresif, kepo, dan kasar.

Setelah saling menilai antar suku, kakak relawan balik menanyakan hal tersebut kepada suku yang dinilai. Ternyata, masing-masing suku tidak merasa mereka memiliki sikap seperti itu. Dari permainan ini, kita mempelajari bahwa kita jangan mudah untuk menilai seseorang dari luarnya saja dan jangan berprasangka buruk terhadap orang lain.

Selesai permainan, adik-adik tetap menginginkan adanya kegiatan menggambar atau prakarya seperti biasanya. Untungnya, para relawan mempunyai ide dadakan untuk mengajak adik-adik menulis atau menggambar harapannya di kertas dan ditempelkan di karton. Kegiatan ini juga diikuti oleh kakak relawan, lho! Kegiatan pun diakhiri dengan foto bersama di lapangan dekat tempat kegiatan kami.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya! Salam #MahasiswaSosial !


Penulis : Sarah Ratu Annisa 
Editor : Gabriela Natasya

Adik-adik Kampung Bambu yang Pintar, Semangat, dan Keren

Hai hai halo, #MahasiswaSosial!

Kegiatan di hari Sabtu, 9 Maret masih bertema toleransi lho, khususnya mengenai sikap menghargai dan bersyukur.

“Wuih, kakak-kakak sudah datang nih”, teriak Putri ketika kakak relawan sampai di Kampung Bambu. Ternyata adik-adik sudah menunggu sambil bermain di sekitar lapangan.  Adik-adik pun menyambut kakak-kakak dengan semangat, dan langsung berkumpul untuk memulai kegiatan.  “Kakak baru pertama kali ke sini ya?”, tanya salah satu anak saat  berkenalan dengan kakak-kakak relawan.

            Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan sesi bermain, adik-adik pun senang dan tidak sabar untuk langsung memulai permainan. Dipimpin oleh Kak Mitha, permainan yang dilakukan adalah menyusun kata berantai tanpa menggunakan suara. Pada permainan tersebut, adik-adik dan kakak relawan dibagi menjadi 2 kelompok. “Teman-teman semua harus berbaris dan mengantarkan pesan kepada orang di belakang tapi tidak boleh bersuara, melainkan hanya menggunakan gerakan ya”, jelas Kak Mitha. Permainan pun berlangsung dengan sangat asyik!

            Setelah sesi bermain selesai, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Kali ini adik-adik dan kakak relawan belajar membuat kacamata yang terbuat dari karton dan plastik mika. Adik-adik pun menggunting dan menghias kacamata buatan mereka dengan kreatif. “Lihat deh kacamata punyaku! Lucu, warnanya pink dan hijau”, seru Jidan dengan semangat. Setelah selesai, semua adik langsung menggunakan kacamata buatan mereka dengan sangat antusias. Kunjungan pun ditutup dengan sesi foto bersama adik-adik di desa. Kreatif ya, semuanya!

Sampai jumpa di artikel selanjutnya! Salam #MahasiswaSosial !

Penulis : Stanislaus Nielsen Kardani
Editor : Gabriela Natasya

Belajar Bersyukur Melalui Media Gambar Bersama Adik – adik Kampung Bambu

Halo, #MahasiswaSosial!

Di bulan Maret ini, tema yang Social Designee angkat adalah bersyukur. Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita, dimulai dari hal kecil dari diri kita seperti memiliki organ tubuh yang lengkap sampai ke hal besar seperti kita bisa memiliki tempat tinggal yang layak, misalnya. Ternyata mengajarkan bersyukur kepada anak-anak juga bisa dengan cara yang fun dan tidak membosankan, loh!

Pada Sabtu (02/03), Social Designee bersama para relawan berkunjung ke Kampung Bambu 01. Ketika kami sudah sampai, disana sudah ada beberapa adik yang telah menunggu para relawan dengan antusias. Meskipun jumlah adik-adik yang hadir tidak sebanyak pada saat kunjungan minggu sebelumya, adik-adik dan relawan tetap bersemangat untuk bermain dan belajar.

(Dokumentasi oleh Paul Abadi Hariandja)

Kegiatan diawali dengan perkenalan adik-adik dan para relawan, setelah itu dilanjutkan dengan permainan, yakni estafet karet menggunakan sumpit. Pada permainan ini, adik-adik dbagi menjadi dua kelompok dan berbaris memanjang ke belakang. Tiap kelompok harus menyusun strategi bagaimana karet dari orang paling depan bisa sampai ke orang paling belakang tanpa terjatuh. Jika karet terjatuh sebelum sampai ke orang paling belakang, maka harus mengulang lagi dari orang paling depan. Permainan estafet ini tidak seperti biasanya loh! Karena sumpit yang digunakan untuk memindahkan karet harus diapit di ketiak.

Setelah bermain, maka kegiatan dilanjutkan dengan materi inti, yakni tentang bersyukur. Di sesi ini adik-adik diberikan kertas yang berisikan kotak-kotak kosong untuk diisi dengan gambar organ wajah pada setiap kolomnya. Namun, kali ini adik-adik menggambar dengan tangan non-dominan mereka! Karena semua adik-adik menggunakan tangan kanan sebagai tangan dominannya, maka mereka menggambar dengan menggunakan tangan kiri.

(Dokumentasi oleh Paul Abadi Hariandja)

Adik-adik pun mulai menggambar berbagai organ di wajah seperti mata, hidung, bibir, gigi, lidah, telinga, alis, dan bulu mata. Selama menggambar, adik-adik dipandu oleh kakak-kak relawan. Meskipun awalnya adik-adik merasa kesulitan, mereka tetap mau berusaha untuk menggambar sampai selesai. Hebat ya adik-adik Kampung Bambu 01! Menggambar menggunakan tangan non-dominan, adik-adik diajarkan untuk bersyukur atas pemberian yang telah Tuhan berikan.

Sampai jumpa di artikel berikutnya! Semoga kita semua selalu bisa bersyukur ya.

Penulis : Sarah Ratu Annisa
Editor : Gabriela Natasya