Gabriela Natasya

Menjadi Pahlawan Kebersihan!

(Dokumentasi oleh Eva Monica)

Halo, #MahasiswaSosial !

Pada bulan September, Social Designee mengangkat tema ‘Kebersihan Lingkungan Sekitar’, melanjutkan tema ‘Kebersihan Diri’ di bulan Agustus. Hal ini untuk membentuk pemahaman dalam diri adik-adik di desa bahwa menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri yang kemudian diteruskan menjadi kepedulian terhadap lingkungan. Apa aja sih yang dilakukan adik-adik dan kakak-kakak relawan pada bulan September? Yuk, simak lebih lanjut artikel ini!

Menghias Botol Minum

Rangkaian kegiatan di bulan September ini dimulai pada tanggal 7. Pada kegiatan pertama ini, kakak-kakak relawan mengajarkan adik-adik di Desa Medang untuk memerhatikan kebersihan lingkungan di sekitar yang diawali dengan lagu ‘Ngawilah, Wilah, Wilah’. Lagu ini membuat adik-adik mengerti bahwa terdapat 3 kategori sampah yaitu, sampah organik, sampah kertas, dan sampah plastik  yang harus dipilah dan dibuang pada tempatnya.

(Dokumentasi oleh Eva Monica)

Setelah itu, sebagai bentuk aksi pertama peduli lingkungan, kakak-kakak memberikan masing-masing adik sebuah botol minum. Botol minum ini tidak hanya diberikan tetapi juga dihias bersama, lho! Botol tersebut diharapkan dapat berguna untuk mengurangi penggunaan gelas atau botol plastik sekali pakai.

Membuat Jubah Pahlawan Kebersihan

Pada pertemuan kedua di bulan September, tepatnya pada tanggal 14 September 2019, adik-adik mempersiapkan diri untuk menjadi pahlawan kebersihan dalam World Clean Up Day di tanggal 21 September 2019! World Clean Up Day adalah aksi membersihkan lingkungan terbesar di dunia yang dilakukan secara serentak dan melibatkan 157 negara, termasuk Indonesia.

(Dokumentasi oleh Eva Monica)

Untuk beraksi dalam World Clean Up Day, adik-adik mempersiapkan diri mereka dengan membuat jubah pahlawan kebersihan! Adik-adik sangat antusias ketika menghias jubah mereka masing-masing yang dibantu oleh kakak-kakak relawan. Ada adik-adik yang menuliskan namanya, menggambar lambang super hero, hingga membuat pemandangan alam! 

Aksi Pahlawan Kebersihan!

(Dokumentasi oleh Eva Monica)

Pada 21 September 2019, adik-adik Desa Medang beraksi menjadi pahlawan kebersihan dalam World Clean Up Day! Sebelum menjalankan aksinya, adik-adik mempersiapkan diri dengan mengenakan jubah super masing-masing, sarung tangan lateks, dan kantong yang terbuat dari singkong. Aksi kemudian dijalankan untuk mengalahkan monster sampah yang menguasai desa. 

Adik-adik dibagi menjadi 3 kelompok pasukan kebersihan dengan tanggung jawab yang berbeda-beda, yaitu: 

  1. Pahlawan Plastik

Kelompok yang bertugas untuk memberantas sampah plastik apapun yang ditemukan, seperti bungkus plasik, kantong plastik, sedotan, dan sebagainya.

  1. Pahlawan Residu

Kelompok yang bertugas untuk membersihkan sampah kertas, puntung rokok, kotak karton, hingga kardus bekas.

  1. Pahlawan Organik

Kelompok yang bertugas untuk mengumpulkan sampah daun kering, sisa makanan, serta batang dan ranting yang berserakan.

Setelah itu, di bawah teriknya sinar matahari, para pahlawan kebersihan menyebar ke berbagai sudut, mencari semua sampah yang ada. Dengan jiwa gotong royong, adik-adik sangat bersemangat untuk memenuhi kantong mereka masing-masing.

Sarah berteriak, “Eh, ini sampah kertas, siapa yang ngumpulin kertas?” 

“Aku, aku!” jawab Tasya.

“Ini plastik bukan?” tanya Fauzal.

“Iya, itu botol plastik, kumpulin, kumpulin!” jawab Nabila.

Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya adik-adik pahlawan kebersihan berhasil mengalahkan monster sampah di Desa Medang. Semua kantong penuh dengan sampah-sampah yang akan dibawa untuk ditampung dan didaur ulang. Namun, perjuangan tidak berhenti sampai di sini. Para pahlawan kebersihan berjanji untuk tetap menjaga lingkungan dan memastikan setiap sampah dibuang pada tempatnya sesuai jenisnya masing-masing.

Sampai jumpa di artikel berikutnya! 

Salam, #MahasiswaSosial !

Penulis : Deborah Megan
Editor : Gabriela Natasya

Netizen? Be Smart!

(Dokumentasi oleh Soka Gakkai Indonesia)

Halo, #MahasiswaSosial !

Zaman sekarang, rasanya sulit bila kita diharuskan hidup tanpa smartphone. Seluruh fitur yang ada di ponsel ini membantu kita untuk berkomunikasi, mencari transportasi, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti memesan makanan.

Namun, kalau phone-nya sudah smart, orangnya juga harus pintar dong! Bagaimana, apakah Kakak sudah menggunakan ponsel kakak dengan bijak? Pada hari Minggu, 28 Juli 2019, Social Designee bekerja sama dengan teman-teman dari Soka Gakkai Indonesia. Di Youth Focus Dialogue for Peace (YFDP) ke-4 ini, tema yang diangkat yaitu “Smart Netizen”.

Data Netizen Indonesia

Seberapa kenalnya kamu terhadap netizen Indonesia? Menurut hasil survey APJI tahun 2017, lebih dari setengah penduduk Indonesia (54,68%) telah terhubung ke internet dan sebagian besar di pulau Jawa. Sedangkan berdasarkan usianya, pengguna internet terbanyak berumur 19 hingga 34 tahun atau sebesar 49,52%. Coba kamu bayangkan. Kalau konten yang disebarkan di internet lebih banyak yang negatif, seberapa cepat dan masif kita terserang konten hoaks atau meresahkan?

3 Skill Penting untuk Menjadi Smart Netizen

Pasti teman-teman sering banget menemukan konten-konten yang meresahkan ini di media sosial maupun grup keluarga. Nah, Kak Ryan Sucipto dari Social Designee membagikan 3 tips agar kita bisa memanfaatkan media sosial dengan bijak. 

  1. Kritis

Selalu cermati informasi yang kita dapatkan sebelum kita teruskan ke orang lain lagi. Perhatikan sumber dan fakta yang tertera di dalamnya. Apabila kurang familiar dengan topiknya, kita bisa memanfaatkan mesin pencarian seperti Google dan situs StopHoax dari Kominfo. Setelah mendapatkan berita sebenarnya, kabarkan kembali ke si penyampai informasi agar ia ikut paham dan berhenti menyebarkan hoaks..

  1. Berempati

Selalu berpikir kembali sebelum memberikan komentar. Apakah hal yang ingin kita sampaikan sudah tepat dan solutif? Pikirkan kembali dampaknya. Apakah orang yang dituju dapat terusik dengan perkataan kita? 

  1. Kreatif

Dibanding suka ngejulid di media sosial, Kak Ryan mengajak kita untuk menjadi kreatif di media sosial. Konten negatif akan selalu ada dan sulit dihilangkan. Namun apabila kita berhenti menyebarkan yang negatif dan menggantinya dengan konten positif, suara dari konten positif ini lama kelamaan akan mengalahkan konten negatif. Kak Ryan mengambil contoh akun instagram @socialdesignee yang suka menyelipkan games dan tips agar kita bisa lebih toleran serta menjaga lingkungan. Keren banget, ya!

Let’s Be a Smart Netizen!

Kritis, berempati, dan kreatif. Gimana, mudah banget kan mengingat 3 tips di atas? Yuk, mulai sekarang kita meminimalkan penyebaran konten negatif dan mulai menjadi pribadi yang kreatif dan positif. Apabila konten ini bermanfaat, bantu sebarkan ke #MahasiswaSosial lainnya, ya! 

Sampai jumpa di artikel berikutnya! Salam, #MahasiswaSosial!

Penulis : Jennifer Handali
Editor : Gabriela Natasya

Tebak-tebakan Hewan di Desa Medang

Halo, #MahasiswaSosial !

Perkenalkan, namaku Daniel. Saat ini aku duduk di kelas 12. Pada artikel ini aku ingin berbagi cerita menarik mengenai pengalaman pertamaku menjadi relawan bersama Social Designee.

Sabtu, 3 Agustus yang lalu, aku dan kelompokku mengunjungi Desa Medang di Gading Serpong dengan menggunakan angkot dari Summarecon Digital Center (SDC). Setibanya di sana, kami membersihkan sebuah posyandu yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan. Tak lama kemudian, Kak Jason datang bersama 27 adik-adik yang aktif dan ceria. Jadi gak sabar untuk memulai kegiatan!

Setelah menyanyikan bersama sebuah lagu tentang kebersihan diri, kami mengusulkan untuk bermain tebak-tebakan nama hewan. Agar permainan semakin seru, aku mengajukan diri untuk berperan sebagai hewannya. Aku mencoba menjiwai peranku sebagai hewan dan ternyata adik-adik terlihat sangat terhibur! Beberapa adik terkejut mendengar suara auman harimau dan tertawa saat aku meniru bebek dan ayam. Bahkan, seorang anak laki-laki menunggangiku ketika aku berpura-pura menjadi kuda.

(Dokumentasi oleh Filbert Agrata Setiawan)

Momen yang paling seru adalah ketika aku berperan menjadi seekor T-Rex. Adik-adik berlari ke sana kemari agar tidak tertangkap. Suara teriakan keras mereka memenuhi posyandu, melebihi suara auman Tiranosaurus yang ada di film Jurassic Park, he…he…! Ada adik yang bersembunyi di balik meja dan ada juga yang berani maju mencoba mengalahkanku. Pada akhir permainan, aku mengaum dengan keras seolah-olah aku akan mati karena ditembak dan berpura-pura jatuh ke lantai. 

Semua yang ada di posyandu pun bertepuk tangan dengan sangat gembira. Sementara itu, aku yang sangat ngos-ngosan, duduk untuk beristirahat. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan mendengarkan cerita dongeng dan menggambar bersama.

(Dokumentasi oleh Filbert Agrata Setiawan)

Pengalamanku seru sekali! Aku senang bisa berinteraksi dengan adik-adik Desa Medang bersama kakak-kakak relawan lainnya. Sampai jumpa minggu depan!

Salam, #MahasiswaSosial !

Penulis : Daniel
Editor : Gabriela Natasya

Indonesia Bebas Anemia? Pasti Bisa!

Halo, #MahasiswaSosial !

Sudah pernah dengar tentang anemia? Kalau mengingat-ingat buku pelajaran IPA dahulu, penyakit ini ternyata disebabkan sel darah merah di tubuh kita kekurangan hemoglobin, protein yang kaya akan zat besi, untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Hmm.. tapi bagaimana ya caranya kita mengetahui apakah kita terkena anemia dan cara mengatasinya? Yuk, baca lebih lanjut artikel ini!

Pada hari Sabtu, 27 Juli 2019, Social Designee bekerjasama dengan teman-teman dari Generasi Bebas Anemia (@sangobion4life) untuk mengadakan sosialisasi di Desa Lengkong Kulon, Kabupaten Tangerang. Ada yang berbeda dari kegiatan ini, karena tidak hanya adik-adik yang menjadi sasaran edukasi, melainkan juga orangtua mereka. 

Memasak Makanan Kaya Akan Zat Besi

Kegiatan pertama dimulai dengan para ibu berlomba untuk memasak sayur bening bayam dan semur ati. Kedua makanan ini dipilih karena merupakan sumber zat besi yang baik bagi tubuh. Siapa yang sangka, ternyata ibu-ibu Lengkong Kulon jago sekali menata makanan di piring dengan indah. Nyamm.. Jangan ngiler dulu, ya!

Cantik banget, ya, bunga dari tomatnya? Sambil memasak, para ibu dipandu oleh Kak Novi sang nutrisionis agar dapat menghasilkan masakan yang dinilai tidak hanya dari rasa, namun juga teknik memasak serta kekompakan tim. Ada informasi menarik nih, ternyata semua sayuran sebaiknya tidak dipanaskan ulang, lho!

Kenali Anemia melalui Aktivitas Kreatif

Selesai memasak, kini giliran adik-adik yang mendapatkan edukasi mengenai penyakit anemia. Agar tidak membosankan, kakak relawan dari Social Designee dan Generasi Bebas Anemia sudah menyiapkan berbagai alat peraga dan permainan. 

  1. Permainan Sendok dan Kelereng 

Pertama, adik-adik diarahkan untuk membentuk barisan sambil mengigit sendok. Pemain yang paling belakang harus berusaha untuk mengantarkan kelereng yang diletakkan di sendok tersebut hingga sampai ke pemain yang paling depan. Meski sederhana, ternyata permainan ini menjelaskan mengenai sel darah kita, lho!

Ibarat sel darah merah, adik-adik ternyata sedang mengantarkan kelereng ‘oksigen’ ke seluruh tubuh. Ketika sel darah kita tidak cukup, akibat pemain yang gugur karena menjatuhkan kelereng, maka penyebaran oksigen pun menjadi lebih sulit. Sebab jarak yang ditempuh tetaplah sama hingga ke seluruh tubuh. 

  1. Permainan Monopoli

Adik-adik Lengkong Kulon semangat sekali ketika melihat ada karpet monopoli, pion raksasa, dan boneka dadu yang menggemaskan. Dibagi ke dalam 3 tim, adik-adik menjalankan pion mereka mengelilingi kotak pada karpet tersebut. Ketika sampai di kotak Gejala Anemia, maka tim tersebut harus dapat mengingat dan menyebutkan apa saja informasi yang telah diajarkan sebelumnya. Ternyata, kalau kita sering kelelahan dan sulit konsentrasi bisa jadi kita mengalami anemia, lho. 

Tim berikutnya menyentuh kotak cara mengatasi anemia dengan menyebutkan makanan yang kaya akan zat besi, seperti bayam, kangkung, hati, dan daging. Kak Novi sebelumnya telah memberikan tips mudah untuk mengingat sumber makanan jenis ini, yaitu sayur yang berwarna hijau gelap dan daging berwarna merah tua!

  1. Melukis Tote Bag

Belum puas rasanya kalau hanya bermain dan belajar saja. Kali ini adik-adik Lengkong Kulon diajak untuk melukis tas menggunakan media cat akrilik. Pada tas tersebut terdapat gambar makanan-makanan yang kaya akan zat besi. Dengan beraktivitas kreatif, adik-adik pastinya akan makin mudah untuk mengingat makanan yang sehat untuknya!

Media tas ini juga kami pilih agar adik-adik ikut lebih peka akan isu lingkungan, seperti mengurangi pemakaian plastik sekali pakai. Dengan memiliki tas hasil karya mereka sendiri, adik-adik juga bisa mengingatkan ibunya untuk membawa tas ini ketika berbelanja nanti di pasar. Komplit, kan?

Siap Menjadi #GenerasiBebasAnemia

Nah, sekarang sudah mengerti kan bahwa anemia yaitu ketika tubuh kekurangan asupan zat besi. Gejala yang kita rasakan yaitu 5L (letih, lesu, lemah, lemas, dan lunglai) serta sulitnya berkonsentrasi. Apabila dibiarkan, anemia dapat menganggu aktivitas kita menjadi kurang maksimal. Sayang, kan? Makanya, yuk kita makan makanan yang bergizi, terutama yang kaya akan zat besi. Ingat untuk beristirahat yang cukup juga, ya! 

Bila artikel ini bermanfaat untuk kamu, yuk bagikan ke teman-temanmu juga. Bersama kita ciptakan #GenerasiBebasAnemia ! 

Sampai jumpa di artikel berikutnya. Salam, #MahasiswaSosial !

Penulis : Jennifer Handali
Editor : Gabriela Natasya

Bukber Tanpa Menghasilkan Sampah, Intip ‘Ayo Berbuka Ceria 4’ !

Halo, #MahasiswaSosial !

Sudah tahu dong kalau di tahun 2019 ini Social Designee mengangkat tema ‘Toleransi’ dan ‘Lingkungan’? Nah, pada tanggal 25 Mei kemarin Social Designee mengadakan kegiatan ‘Ayo Berbuka Ceria 4’ dalam memperingati bulan Ramadan. Kegiatan ini merupakan bentuk silaturahmi yang ditujukan pada adik-adik dan keluarganya di Kampung Pakulonan Barat 03 dan Medang 01.

Kegiatan Ayo Berbuka Ceria 4 akan menutup tema ‘Toleransi’ dan mengantarkan kita pada tema selanjutnya, yaitu ‘Lingkungan’! Selain relawan, ada teman-teman dari Sabang Merauke juga yang hadir sebagai mitra dari Social Designee selama menyusun materi pada periode sebelumnya, lho!

Penasaran bagaimana serunya ABC 4 kemarin? Lanjut membaca yuk!

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard A.)

#MahasiswaSosial pasti sudah hafal dengan peribahasa yang satu ini: Tak kenal, maka tak sayang! Sesampainya di desa, kakak dan adik yang belum berkenalan langsung menyapa satu sama lainnya sambil bercanda tawa. Baru datang, sudah disambut dengan yang hangat saja ya!

Biar makin akrab, kakak-kakak dari Social Designee mengajak bermain bersama. Judul permainannya yaitu ‘Ketupat Berantai’! Mendengar itu, adik-adik sempat kebingungan. Memangnya ada ya ketupat berantai?

Oh, ternyata ketupatnya ini harus dianyam dari kertas! Biar hasilnya bagus, adik-adik mewarnai dahulu kertas mereka masing-masing, lalu kertas itu akan dioper ke teman sekelompoknya untuk dianyam. Hasilnya unik-unik lho, bahkan ada yang membuat ketupat pelangi seperti ini, nih!

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard A.)

Bikin baper, eh laper ya, hehe! Tapi ternyata tidak, sebab adik-adik Pakulonan Barat 03 dan Medang 01 sangat bersemangat menunggu jam buka puasa nanti. Kegiatan pun dilanjutkan dengan kreasi unik selanjutnya. Kalau ketupat tadi berwarna-warni, karya yang ini berwarna tapi tidak terlihat. Lho, kok bisa?

Jadi kreasi ini juga merupakan gambar tangan adik-adik, namun warnanya baru akan kelihatan apabila kertas gambar tersebut ditarik ke atas. Siapa yang sangka, ternyata materi ini punya pesan yang dalam lho! Kakak-kakak #MahasiswaSosial mengajarkan kita semua bahwa kita tidak boleh berprasangka dan menilai seseorang atau sesuatu dari luarnya saja. Wow, bagus banget ya maknanya!

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard A.)

Akhirnya dimulailah sesi buka bersama. Adik-adik pun bergabung dengan kakak relawan yang tadinya menyiapkan ruangan dan menyusun makanan. Dibuka dengan doa bersama, suasana berubah menjadi khusyuk namun tidak kaku. Sambil menyantap makanan yang dihidangkan, kakak #MahasiswaSosial duduk bersama dengan adik-adik serta keluarganya.

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard A.)

Yang menarik dari Ayo Berbuka Ceria 4 ini, tidak ada sampah plastik maupun penggunaan kemasan sekali pakai lho! Dengan konsep ala liwetan, makanan dihidangkan di atas daun pisang. Untuk minumannya, semua peserta telah dihimbau untuk membawa wadah air masing-masing. Kalau kakak #MahasiswaSosial sering miris melihat banyaknya sampah plastik dari kemasan sekali pakai, boleh nih ditiru caranya!

Nah, sekian dulu ya artikel mengenai Ayo Berbuka Ceria 4 ini. Semoga hangatnya kebersamaan dan suasana berbagi di desa dapat ditularkan kepada kakak #MahasiswaSosial yang membaca tulisan ini! Kalau kakak tertarik untuk mempelajari bagaimana cara kreatif kita untuk memelihara diri dan lingkungan kita, yuk #JadiRelawan di periode selanjutnya mulai Agustus 2019 nanti!

Sampai jumpa di artikel berikutnya! Salam #MahasiswaSosial !

Penulis : Jennifer Handali

Keluar dari Zona Nyaman – Klasik #13 Bersama Shavira

Halo, #MahasiswaSosial !

Di akhir bulan Mei, Klasik ditemani oleh Kak Shavira dengan topik “Keluar dari Zona Nyaman”. Kira-kira bagaimana ya keluar dari zona nyaman? Dan apa keuntungannya? Penasaran kan? Yuk, langsung simak Klasik #13 pada 25 Mei 2019 kemarin!

Klasik dimulai dengan sebuah permainan. Tiap #MahasiswaSosial diberi pertanyaan “Kamu tim jalan-jalan sendiri atau jalan bareng temen?” yang harus dijawab dengan disertai alasannya. Permainan ini bertujuan untuk mengajak para #MahasiswaSosial untuk keluar dari zona nyaman dengan mencoba untuk melakukan hal yang berlawanan degan pilihannya.

Kak Shavira membuka ceritanya dengan mengajak para #MahasiswaSosial untuk memberikan alasan mereka belum keluar dari zona nyaman. Menurut Kak Shavira, terdapat 3 alasan umum seseorang tidak dapat keluar dari zona nyaman, yaitu takut, malas, dan terperangkap. Padahal,  keluar dari zona nyaman adalah cara untuk lebih mengenal diri sendiri, explore, dan meningkatkan kualitas diri (upgrade).

Kak Shavira sendiri memiliki momen keluar dari zona nyaman yang membawanya ke hal yang positif dan tidak ia duga sebelumnya, yakni menjadi SPG brand kopi saat libur SMA. Baginya, pengalaman ini sangat membantunya untuk lebih mudah bergaul, terbuka, dan aktif. Wah, keren ya! Pengalaman ini membuktikan bahwa keluar dari zona nyaman dapat membawa kita ke zona pembelajaran.

Pada sesi akhir, Kak Shavira membagikan tips untuk bisa keluar dari zona nyaman, yaitu langsung bertindak atau just do it. Menurutnya, lebih baik menyesal karena melakukan daripada menyesal karena tidak pernah melakukan.

Sekian Klasik #13 “Keluar dari Zona Nyaman” bersama Kak Shavira. Mari kita coba keluar dari zona nyaman dan sampai jumpa di Klasik selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Penulis : Ivan Hartanto
Editor : Gabriela Natasya


The Power Within Each of Us – Klasik #12 Bersama Kak Felika

Halo, #MahasiswaSosial !

Pada bulan Mei kita kembali lagi dengan Klasik, Kelas Asik! Klasik kali ini dibawakan oleh Kak Felika dengan topik “The Power Within Each of Us”. Wah, bagaimana ya keseruannya? Yuk kita simak Klasik #12 pada 18 Mei 2019 kemarin!

Klasik dimulai dengan mengajak para #MahasiswaSosial bermain Tim Mie Goreng atau Tim Mie Kuah serta menanyakan makanan yang sedang disukai. Permainan ini bertujuan membawa pesan walaupun pilihan kita berbeda, yang penting kita makan bersama. Wah, pesan permainannya sangat positif ya!

Kak Felika bercerita tentang kemampuan setiap individu terletak pada kekuatan untuk memilih apa yang mereka inginkan. Kekuatan ini yang membantu kita memilih ingin menjadi pribadi yang lebih baik atau putus asa karena terlalu mendengarkan kalimat negatif dari orang lain.

Pada saat bercerita, Kak Felika membawa sebuah analogi tentang beras yang harus melewati proses kehancuran untuk dapat menjadi nasi. Analogi ini mengajarkan para #MahasiswaSosial agar dapat belajar untuk melepaskan dan berani melangkah.

Kak Felika menambahkan bahwa setiap keputusan tentu akan menjadi momen berkembang. Ia pun sadar semua perkembangan diri mungkin tidak selalu baik, namun tidak ada cara lain untuk menjadi lebih baik selain mencoba.

Klasik ini pun ditutup dengan pesan dari Kak Felika untuk semakin berdamai dengan diri sendiri pada setiap proses yang sedang dilalui. Semua dapat berjalan dengan cepat atau sedikit lamban, namun hal ini tidak menjadi masalah karena setiap orang punya waktunya masing-masing.

Sekian Klasik #12 “The Power Within Each of  Us” bersama Kak Felika. Semoga teman-teman #MahasiswaSosial bisa memaksimalkan potensi melalui kemampuan mengambil keputusan. Sampai jumpa di Klasik selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Penulis : Ivan Hartanto
Editor : Gabriela Natasya


Simple Act to Grow – Klasik #11 Bersama Franko

Halo,  #MahasiswaSosial !

Tidak terasa, kita kembali lagi dengan Kelas Asik! Kali ini, topik yang dibawakan sangat sederhana, lho!  Kok sederhana? Yuk, kita simak Klasik pada tanggal 3 Mei 2019 ini!

Dengan judul Simple Act to Grow, Kak Franko ingin mengenalkan perbuatan sederhana yang membuat diri lebih berkembang. Sebelumnya, Kak Franko membuka cerita dengan kalimat berikut dari Dale Carnegie. “People rarely succeed unless they have fun in what they are doing”. Menurutnya, kita perlu menikmati aktivitas yang kita lakukan, sehingga kita mendapatkan hasil yang maksimal pula.

Setelah itu, Kak Franko menceritakan pengalamannya dari masa kecil hingga sekarang yang tidak lepas dari proses belajar. Ada tiga hal yang bisa dipakai untuk berkembang, yaitu Ask, Notice, dan Decide. Selanjutnya, Kak Franko mengingatkan akan sebuah pertanyaan yang berguna untuk membuat kita berhenti dan melakukan refleksi. Pertanyaan itu adalah “Apakah hari ini aku belajar hal baru? Apakah hari ini aku berkembang  sebagai seorang individu?”

Dengan membekali diri dengan 3 hal tadi, Kak Franko pun menceritakan proses bagaimana dirinya semakin dapat diandalkan dan dipercaya oleh lingkungannya.  Proses yang berarti tidak berlangsung dalam waktu yang singkat, namun dampaknya sangat bermanfaat.

Untuk menutup Klasik dengan judul Simple Act to Grow, Kak Franko mengutip kata mutiara yang ia rasa sangat cocok untuk kita para #MahasiswaSosial, yaitu “Jika kamu ingin mengatasi rasa takutmu, jangan hanya diam dan memikirkan hal itu. Keluarlah dan lakukan sesuatu.”

Sekian Klasik “Simple Act to Grow” bersama Kak Franko. Sampai jumpa di Klasik selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Penulis : Ivan Hartanto
Editor : Gabriela Natasya

Menjadi Percaya Diri – Klasik #10 Bersama Gabriela Natasya

Halo,  #MahasiswaSosial!

Seperti biasa, kita kembali lagi bersama Klasik, waktu ngobrol bareng pengurus Social Designee dengan para #MahasiswaSosial. Untuk kesempatan kali ini, Klasik dibawakan oleh Kak Gabriela Natasya, yang akrab dipanggil Kak Gaby, dengan membawakan topik “Menjadi Percaya Diri” atau self-confidence.

Klasik dimulai dengan sebuah permainan, yakni melanjutkan kalimat “Hal yang membuat aku bangga hari ini adalah ……….”. Permainan ini dilakukan dengan mengajak para #MahasiswaSosial yang hadir untuk  menceritakan apa yang mereka banggakan hari ini beserta alasannya. Selintas permainan ini terlihat sederhana, namun ternyata juga mengasah struktur berpikir dan mengajarkan kita untuk bersyukur.

Setelah seluruh kakak #MahasiswaSosial sudah menceritakan hal yang mereka banggakan hari ini secara bergantian, Kak Gaby juga tak mau ketinggalan untuk menceritakan hal yang ia banggakan hari ini. Ia dengan percaya diri berkata, “Hal yang membuatku bangga hari ini adalah kesempatan untuk bisa berbagi cerita dengan teman-teman di Klasik ini.”

Jawaban Kak Gaby pun mendapatkan tepuk tangan, tanda semangat dari para kakak #MahasiswaSosial yang hadir! Melalui jawaban ini, kita dapat belajar bahwa berbagi adalah sebuah kebanggaan.

Kak Gaby kemudian mulai menceritakan saat ia menjadi bintang kelas di bangku sekolah. Namun, pada akhirnya ia gagal masuk ke perguruan tinggi negeri. Ia pun menceritakan lebih lanjut tentang kegagalan-kegagalan yang ia alami. Hal ini menjadi momen yang membuat dirinya tidak percaya diri karena merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tua dan teman-teman sekitarnya.

Tidak hanya mengeluh, Kak Gaby mulai mencoba belajar untuk tidak terlalu memedulikan ekspektasi orang lain dan memulai untuk menghormati diri sendiri, atau yang ia sebut self-respect. Self-respect berarti melakukan hal baik pada diri sendiri yang bisa dimulai dari kegiatan sederhana, seperti tersenyum untuk orang lain.

Untuk terus meningkatkan rasa percaya diri para #MahasiswaSosial, Kak Gaby memberikan satu kalimat mutiara yang ia sukai. “No one will believe in you, unless you do” oleh Dr. Ivan Joseph.

Sekian Klasik #10 “Menjadi Percaya Diri” bersama Kak Gaby. Sampai jumpa di Klasik selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Penulis : Ivan Hartanto
Editor : Gabriela Natasya

Be Yourself – Klasik #9 Bersama Filbert Agrata

Halo, #MahasiswaSosial !

Klasik hadir lagi nih! Kali ini topiknya tentang menjadi diri sendiri atau be yourself dari Kak Filbert. Wah, menjadi diri sendiri? Topik yang dekat, namun terkadang kita sebagai #MahasiswaSosial lupa akan hal ini. Yuk kita simak keseruan topik menjadi diri sendiri di Klasik tanggal 20 April 2019!

“It’s about myself.” Inilah kalimat yang Kak Filbert bagikan saat membuka Klasik. Ia memulai topik ini dengan menceritakan pengalamannya sebagai anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang cenderung rendah diri, sulit berteman, serta memiliki prestasi yang kurang memadai.

Setelah bercerita tentang pengalamannya sebagai anak ADHD, Kak Filbert juga bercerita tentang pentingnya nilai humanisme dan integritas dalam diri #MahasiswaSosial. Ia menceritakan nilai-nilai ini dengan pengalamannya mencoba menjadi #MahasiswaSosial bersama Social Designee yang selalu membawa nilai, pesan, dan energi positif sehingga membuatnya lebih berani menjadi diri sendiri.

Klasik ini pun ditutup Kak Filbert dengan mengingatkan para #MahasiswaSosial mengenai makna fokus. Kita sebagai individu tentu memiliki kekurangan serta kelebihan. Tidak ada kondisi di mana kekurangan lebih banyak dari kelebihan kita.

“Karena pada akhirnya, kita bisa memilih untuk fokus pada kekurangan atau kelebihan. Saya pun memilih untuk lebih fokus pada kepedulian dan integritas dibandingkan kondisi ADHD” tutup Kak Filbert mengakhiri presentasinya.

Wah, terima kasih Kak Filbert telah berbagi ilmu mengenai pentingnya menjadi diri sendiri di Klasik kali ini!

Sekian Klasik #9 Be Yourself bersama Kak Filbert. Sampai jumpa di Klasik selanjutnya!

Salam,
#MahasiswaSosial

Penulis : Ivan Hartanto
Editor : Gabriela Natasya