Adik-adik Perempuan Desa Bojong Gintung

Halo, #MahasiswaSosial !

Di minggu ketiga bulan April ini, adik-adik perempuan sudah banyak yang berkumpul. Terlihat pula adik-adik lainnya yang berdatangan menggunakan sepeda maupun berjalan kaki untuk berkumpul bersama. Yuk kita mulai permainan pertama! Konsentrasi yang tinggi dibutuhkan dalam permainan ini untuk memahami aturannya. Adik-adik pun dibagi menjadi 4 suku, yaitu suku Musi, Bobo, Gupi, dan Sombo. Suku Musi merupakan suku yang kaya dan berkomunikasi dengan bahasa daerah. Namun, Namun, Suku Musi bermusuhan dengan para pedangang Suku Gupi yang hanya bisa berbicara “Gupi gupi!”. Selanjutnya, terdapat Suku Bobo yang merupakan suku penghasil kayu yang tidak bisa berbicara. Suku ini bermusuhan dengan Suku Sombo yang merupakan pedagang. Suku Sombo dapat berkomunikasi dengan semua bahasa suku yang ada.

(Dokumentasi oleh Kevin Leonard)

Setiap suku bertugas untuk mendapatkan berbagai kebutuhan yang seimbang, yaitu satu uang, kayu, dan beras. Saat memulai permainan, adik-adik pun langsung melakukan barter untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan dengan cepat. Kelompok yang berhasil melengkapi kebutuhannya dengan cepat adalah suku Musi. Barang yang mereka dapatkan ternyata melebihi kebutuhan mereka sehingga dapat diberikan kepada kakak yang berperan sebagai  pengemis. Meskipun demikian, masih ada kelompok yang sibuk untuk barter meskipun waktu telah habis. Wah, bagaimana dong?

Setelah itu dilanjutkan ke ronde kedua di mana tiap suku tetap melakukan barter tanpa ada yang bermusuhan, sehingga tiap suku dapat melakukan barter secara bebas. Permainan ini mengajarkan kita bahwa semuanya menjadi lebih mudah untuk didapatkan jika kita tidak bermusuhan dan saling membantu satu sama lain, terutama untuk orang yang lebih membutuhkan.


(Dokumentasi oleh Kevin Leonard)

Permainan kedua adalah Buaya dan Kancil. Adik-adik dibagi menjadi 2 kelompok kancil, yaitu kelompok kancil coklat dan kancil emas. Kemudian kakak-kakak relawan berperan menjadi buaya. Kelompok kancil coklat dan kancil emas sedang kelaparan dan ingin menyebrangi sungai untuk mencari makan. Untuk dapat menyebrangi sungai, kedua kelompok kancil kemudian harus membuat jembatan yang disusun dengan menggunakan sandal. Saat permainan mulai, kancil dari masing-masing kelompok pun bergantian untuk melakukan suit dengan kelompok kancil lawannya. Kelompok yang menang dapat memilih untuk menambah 1 sandal di jembatan miliknya atau mengurangi 1 sandal milik kelompok lawan. Saat malam hari tiba, kancil harus menutup mata untuk tidur. Jika tidak, dik tersebut akan diambil dan dibawa ke sarang buaya. Hii.. seram! Pada akhirnya, kelompok kancil emas memenangkan permainan ini. Kesimpulan dari permainan ini adalah jika kedua kelompok kancil tersebut bekerja sama, mereka akan mencapai ujung sungai dengan lebih cepat, dan semua kancil dapat memperoleh makanan.


(Dokumentasi oleh Kevin Leonard)

Setelah permainan selesai, Kegiatan ditutup dengan pembacaan doa sehingga adik-adik dapat mengingat pesan penting permainan-permainan hari ini. Namun Namun karena hari semakin sore, adik-adik yang laki-laki pun pamit terlebih dahulu untuk latihan sepak bola. Sebelum pergi, tak lupa mereka bersalaman dengan setiap kakak-kakak pembina. Setelah itu, adik-adik perempuan menjadi antusias dan berani untuk ikut membaca hikmat dan doa bersama. Mereka pun bergantian untuk membaca doa yang telah tersedia. Meskipun kita semua pulang lebih sore, namun kami senang karena semua materi dan permainan dapat tersampaikan dengan baik.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Salam, #MahasiswaSosial !

Penulis : Edita Inten A.
Editor : Gabriela Natasya

Gimana komentar kamu?